Diberdayakan oleh Blogger.

PTK SD: COOPERATIF LEARNING DENGAN MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA JAWA SISWA KELAS IV SD

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan  motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa melalui pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw pada siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 semester I tahun pelajaran 2012/2013.
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Agustus 2012 sampai dengan bulan Oktober 2012. Subjek dalam penelitian adalah motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 semester I tahun pelajaran 2012/2013, yang terdiri dari 27 siswa yaitu 9 laki-laki dan 18 perempuan.
Prosedur penelitian yang digunakan yaitu prosedur jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Analisis data kualitatif hasil pengamatan motivasi belajar dianalisis menggunakan analisis diskriptif kualitatif dengan membandingkan siklus I dengan siklus II, sedangkan data yang berupa angka (data kuantitatif) dari prestasi belajar siswa dianalisis menggunakan deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes siklus I dan nilai tes siklus II, kemudian direfleksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa Kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 semester I tahun pelajaran 2012/2013. Motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan: aspek tanggung jawab (nilai rata-rata meningkat 0,7; persentase naik 18%; dari kategori tinggi menjadi tinggi sekali), aspek memperhatikan umpan balik (nilai rata-rata naik 0,6; prosentase naik 11,8%; dari kategori tinggi menjadi tinggi sekali); aspek mempertimbangkan resiko (nilai rata-rata naik 0,6; prosentase naik 13,3%; dari kategori tinggi menjadi tinggi sekali); dan aspek kreatif-inovatif (nilai rata-rata  meningkat 0,9; persentase naik 17,7%; dari kategori tinggi menjadi tinggi sekali). Prestasi belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 5 siswa (19%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 27 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 22 siswa (81%) dan nilai rata-rata kelas dari 54,6 menjadi 84,6, meningkat sebesar 30,0.

Kata Kunci : Motivasi dan Prestasi Belajar Bahasa Jawa, Pembelajaran Cooperatif Learning dengan Model Jigsaw
Latar Belakang Masalah
Bahasa  Jawa merupakan salah satu wujud kebudayaan bangsa dan daerah yang harus dipelihara dan dikembangkan. Bahasa jawa bukanlah milik generasi tua, tetapi harus dikuasai dan menjadi milik generasi sekarang dan generasi yang akan datang, oleh karena itu bahasa Jawa diajarkan di sekolah maulai dari jenjang  pendidikan dasar.
Namun demikian pada kenyataannya, pembelajaran bahasa jawa masih belum mampu mencapai tujuan yang ditetapkan. Siswa masih terlihat enggan mempelajari bahasa jawa. Sebagian besar siswa merasa bahasa jawa sebagai bahasa yang sulit dan tidak bermanfaat untuk dipelajari. Hal ini terutama disebabkan karena sebagian besar siswa tidak lagi mempergunakan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi di rumah dan di lingkungan pergaulan sehari hari.
Kondisi tersebut semakin dipengaruhi dengan penggunaan metode pembelajaran ekspositorik, dimana guru menjelaskan tata bahasa, peribahasa, atau cara penulisan bahasa jawa di depan kelas, sedangkan siswa duduk pasif di kursi masing- masig. Metode pembalajaran yang demikian tersebut cenderung menyebabkan siswa bosan, tidak termotivasi dan kurang memahami materi yang diajarkan.
Sebagai salah satu usaha upaya pemecahan masalah, perlu dilakukan perbaikan metode pembelajaran, sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan siswa menjadi termotivasi untuk belajar. Metode pembelajaran yang menyenangkan, dimana siswa bergerak secara aktif diharapkan tidak menekan atau membebani siswa sehingga siswa terdorong untuk belajar.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian: Apakah melalui pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa Kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 semester I tahun pelajaran 2012/2013?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah mendeskrisikan peningkatan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa melalui pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw pada siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 semester I tahun pelajaran 2012/2013.

Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini banyak manfaat yang diperoleh, diantaranya:
Bagi siswa dapat memotivasi siswa untuk belajar, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan mempermudah siswa memahami dan menguasai pelajaran Bahasa Jawa. Bagi Guru, dapat lebih termotivasi untuk terus mengembangkan profesionalitas dan kinerja, melatih kemampuan guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, serta memberikan pengalaman dalam penerapan metode pembelajaran yang bervariasi.
KAJIAN TEORI
Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai “ daya penggerak yang telah menjadi aktif” (Sardiman,2001:71). Pendapat lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah “ keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (Soeharto dkk, 2003:110).
Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara oleh suatu hal (Nasution, dkk: 1992:3).
Motivasi belajar merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.
Dalam aktifitas belajar, seorang individu membutuhkan suatu dorongan atau motivasi sehingga sesuatu yang diinginkan dapat tercapai, dalam hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: 1) Faktor individual
Seperti; kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi. 2.)   Faktor social Seperti; keluarga atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat dalam belajar, dan motivasi sosial (Purwanto, 2002: 102)
Terdapat empat aspek utama yang membedakan tingkat motivasii individu (Asnawi, 2002:99), yaitu: a) Mengambil Tanggung jawab atas Perbuatan-perbuatannya, b) Memperhatikan Umpan Balik Tentang Perbuatannya, c) Mempertimbangkan Resiko, dan d) Kreatif-Inovatif
Prestasi belajar
Menurut Singgih (1983:77)  prestasi belajar adalah hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha – usaha belajar. Sedangkan menurut Azwar (2000:90) prestasai belajar  adalah  hasil maksimal seseorang dalam menguasai materi- materi yang telah diajarkan .
Menurut Bloom dalam Arikunto (1998:112) prestasi belajar dibagi atas tiga kategori yaitu : kognitif, afektif , dan psikomotorik.  Lebih lanjut Winkel (1996:245) menguaraikan ketiga  aspek  tersebut sebagai berikut: 1) Aspek Kognitif meliputi : a) pengetahuan, mencakup ingatan akan hal- hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan; b) Pemahaman, mencakup kemampuan mengungkap makna atau arti bahan yang dipelajari; c) Penerapan, mencakup kemampuan menggunakan ketentuan-ketentuan, prinsip- prinsip, konsep – konsep yang telah diterimanya; d) Analisa, meliputi kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian- bagian, sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik; e) Sintesis, meliputi kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru; f) Evaluasi, merupakan kemampuan kognitif yang tertinggi tingkatannya . evaluasi mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau bebarapa hal, beserta dengan pertimbangan pendapat, yang didasarkan pada kriteria kriteria tertentu. 2) Aspek Afektif meliputi: a) Penerimaan, adalah kesediaan untuk memperhatikan rangsangan. Kesediaan ini dinyatakan dalam memperhatikan sesuatu, b) Partisipasi, mencakup kerelaan untuk , memperhatikan secara aktidf dan berpartisipasi dalam kegiatan. Keaktifan ini dinyatakan dalam memberikan sesuatu reaksi terhadap rangsangan yang disajikan, c) Penilaian atau penentuan sikap, meliputi kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu atau membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Kemampuan ini dinyatakan dalam suatu perkataan atau tindakan. d) Organisasi, meliputi kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan . kemampuan ini dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai, e) Pembentukan pola hidup, mencakup kemampuan untuk menghayati nilai- nilai kehidupan sedemikian rupa sehingga menjadi milik pribadi dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupan sendiri. Kemampuan ini dinyatakan dalam pengaturan hidup di berbagai bidang. 3) Aspek Psikomotorik meliputi: a) Persepsi, mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih berdasarkan perbedaan antara ciri- ciri fisik yang khas pada masing- masing  perangsang, b) Kesiapan, meliputi kemampuan untuk menempatkan diri dalam keadaan akan memulai suatu gerakan, kemampuan ini dinyatakan  dalam  bentuk  kesiapan jasmani dan mental, c) Gerakan terbimbing, mencakup kemampaun untuk melakukan suatu serangkaian gerak- gerak sesuai dengan contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam gerakkan anggota tubuh, d) Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian suatu rangkaian gerak- gerik dengan lancar, e) Gerakan komplek, mencakup kemampuan  untuk melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas berbagai komponen dengan lancar, tepat,dan  efisien, f) Penyesuaian pola gerakan. Penyesuaian pola gerakan mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak- gerik baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.
Jadi arti prestasi belajar adalah suatu motivasi yang telah dilakukan dan memperoleh pengetahuan dengan memenuhi unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik baik individu maupun secara kelompok padaa mata pelajaran  tertentu. Dengan kata lain prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, setelah mengikuti proses balajar mengajar yang diukur dengan menggunakan instrumen lain yang relevan.

Pembelajaran Bahasa Jawa di SD
Sebagai bahasa daerah, BJ berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daerah. Fungsi BJ yang hakiki adalah fungsi ketiga, sehingga BJ dominan digunakan dalam wujud bahasa lisan. Dari kenyataan ini, tujuan pembelajaran BJ di SD diusulkan mengutamakan keterampilan berbicara.
Kehalusan budi bahasa merupakan nilai yang dijunjung tinggi orang Jawa, ëWong Jawa nggone rasaë. Orang Jawa tempat pertimbunan kekayaan yang berupa perasaan halus. Kata-kata pada tingkat tutur krama bukan sekadar paduan bentuk dan makna, tetapi juga terkandung ërasaí, yaitu rasa hormat pada mitra bicara. Bentuk krama dapat digunakan sebagai alat memperhalus budi pekerti siswa. Inilah pentingnya bentuk krama dalam pembelajaran BJ bagi siswa SD. Kiranya sudah memadai jika pembelajaran BJ di SD dapat menghasilkan siswa yang mampu berbicara dalam BJ ngoko dan krama dengan baik. Keberhasilan pembelajaran BJ di SD akan memberikan garansi akan keberadaan BJ paling tidak satu abad yang akan datang.  (Surono, 2006:1)

Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993:77), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu : 1) Saling ketergantungan positif. 2) Tanggung jawab perseorangan, 3) Tatap muka, 4) Komunikasi antar anggota, 5) Evaluasi proses kelompok.
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994: 54).
Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001:128). Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 2001:129).
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 2001:130).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994:87).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 2001:131) :

Kelompok Asal

Kelompok Ahli
Gambar1
 Ilustrasi Kelompok Jigsaw

Penerapan Pembelajaran Cooperatif Learning Dengan Model jigsaw pada Pembelajaran Bahasa Jawa
    Langkah- langkah pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut:
a.    Siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil. Anggota kelompok ditetapkan oleh guru.
b.    Materi pembelajaran bahasa jawa diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi- bagi menjadi beberapa sub bab.
c.    Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab mempelajarinya.
d.    Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e.    Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajari teman- temannya. Oleh karena itu, satu-satunya akses untuk memahai satu sub bagian adalah dengan mendengarkan penjelasan dari temannya. Hal ini selain merupakan salah satu pembelajaran sebaya, juga dapat mengikis rasa tidak sukaatau pertengkaran dimana antara satu siswa dengan siswa yang lainnya.
f.    Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa –siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
Kunci metode jigsaw ini adalah interpedansi : tiap siswa bergantung pada teman satu timnya untuk dapat memnberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian.
Kerangka Berpikir
Kondisi awal guru belum menggunakan pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dalam pembelajaran bahasa Jawa, maka motivasi dan  prestasi belajar bahasa Jawa masih rendah.
Untuk memperbaiki dan meningkatkan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa perlu adanya tindakan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan menggunakan pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw. Siklus I menggunakan pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw tanpa bimbingan guru dan siklus II menggunakan pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dengan bimbingan guru. Dengan tindakan yang berbeda dari siklus I ke siklus II diharap motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa meningkat.
Kondisi akhir diduga menggunakan pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa Kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 Semester I tahun pelajaran 2012/2013.

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Melalui pembelajaran cooperatif learning dengan model jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa Kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 Semester I tahun pelajaran 2012/2013.

METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Agustus 2012 sampai dengan bulan Oktober 2012. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Tegalsari 04, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari 04, dengan jumlah siswa 27 orang yang terdiri dari 9 laki-laki dan 18 perempuan.
Sumber Data
    Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data yang berasal dari subyek penelitian (primer) dan dari bukan subyek (skunder).
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa teknik tes, dan teknik non tes. Sedangkan alat Pengumpulan data meliputi dokumen, tes dan pengamatan. Dokumen digunakan untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar kondisi awal siswa yaitu berupa daftar nilai/laporan penilaian, pengolahan dan analisis prestasi belajar siswa. Tes digunakan untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar siswa yang berupa butir soal. Pengamatan menggunakan lembar penilaian yaitu untuk mengetahui motivasi siswa dalam aspek 1) Mengambil Tanggung jawab atas Perbuatan-perbuatannya, 2) Memperhatikan Umpan Balik Tentang Perbuatannya, 3) Mempertimbangkan Resiko, 4) Kreatif-Inovatif.
Validitas dan Analisis Data
Untuk memperoleh data yang valid mengenai motivasi dan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari 04 Semester I tahun pelajaran 2012/2013 yaitu: 1) motivasi (observasi) divalidasi melalui trianggulasi sumber, yaitu data yang berasal dari siswa, guru dan rekan kolaborator yang merupakan data kualitatif dianalisis menggunakan analisis diskriptif kualitatif berdasarkan pengamatan dan refleksi dengan membandingkan proses kondisi awal, siklus I dan siklus II. 2) prestasi belajar yang berupa nilai test yang divalidasi adalah instrumen test yang berupa butir soal dengan content validity diperlukan kisi-kisi soal. Data yang berupa angka (data kuantitatif) dianalisis menggunakan diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I dan nilai tes setalah siklus II, kemudian direfleksi.

Prosedur Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan/observasi dan refleksi.
Indikator Keberhasilan
Peningkatan motivasi membaca indikatornya adalah adanya peningkatan motivasi belajar dari rendah menjadi tinggi. Peningkatan prestasi belajar bahasa Jawa indikatornya adalah nilai ulangan harian yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 60.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Awal
Prestasi belajar siswa pada pembelajaran bahasa Jawa sebelum diadakan penelitian dapat dilihat pada tabel dan gambar grafik berikut.

0 komentar:

Poskan Komentar