Diberdayakan oleh Blogger.

PTK TK: PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGENALAN KONSEP BILANGAN MELALUI MEDIA KARTU ANGKA PADA KELOMPOK B2 TK

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan  kemampuan pengenalan konsep bilangan melalui media kartu angka pada  kelompok B2 TK Kencanasari 01 tahun pelajaran 2011/2012.
Penelitian ini dilakukan kepada kelompok B2 TK Kencanasari 01 tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa 21 orang yang terdiri dari 10 laki-laki dan 11 perempuan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas, pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan tes atau penugasan, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif. Aktifitas dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui media kartu angka dapat meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan pada kelompok B2 TK Kencanasari 01 Telukan tahun pelajaran 2011/2012. kemampuan pengenalan konsep bilangan dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 0 anak (0%) yang memiliki kemampuan baik menjadi 20 anak (95%). Terjadi peningkatan sebanyak 20 anak (95%).

Kata kunci : Pengenalan Konsep Bilangan, Media Kartu Angka















Latar Belakang Masalah
Sejak anak usia dini konsep bilangan perlu diperkenalkan. Pemahaman konsep bilangan berkembang seiring dengan perkembangan waktu dan kesempatan. Dalam pembelajaran di TK guru sering menunjukkan perasaan kecewa terhadap cara berpikir anak. Kepercayaan diri anak akan berkurang saat mereka harus bersandar pada apa yang tidak mereka ketahui. Pada prinsipnya kemampuan mengenal konsep bilangan anak usia dini dapat ditingkatkan asalkan guru mengetahui cara-cara yang tepat. Berbagai cara dapat dicoba oleh guru agar anak mengenal konsep bilangan. Satu diantaranya adalah melalui media kartu angka. Melalui media ini diharapkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak usia dini dapat ditingkatkan.
Di akhir karirnya, Piaget (1976:89) menulis tentang pendidikan, menawarkan beberapa saran perubahan yang menarik perhatian pendidikan dan mempunyai dampak yang besar dalam kurikulum pra sekolah dan tingkat-tingkat awal sekolah (Ginsburg & Opper, 1988:66) sebagai berikut :
“Sesuaikan pendidikan dengan kesiapan anak untuk belajar. Pengalaman belajar yang sesuai membangun skema yang ada. Piaget menekankan bahwa anak lebih diuntungkan dari pengalaman pendidikan yang tidak terlalu sulit yang menarik keingintahuannya, menantang pemahamannya saat ini, dan mendorongnya untuk mengevaluasi apa yang telah diketahuinya. Jika pengalaman belajar terlalu rumit, anak tidak dapat memahaminya, dan tidak ada peristiwa belajar baru yang muncul”. Untuk saat ini tuntutan dari kurikulum tersebut belum bisa direalisasikan di TK Kencanasari 01.
Penelitian ini akan mencoba meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan melalui media kartu angka. Dengan media kartu angka ini, di samping anak memiliki rasa senang, diharapkan tertanam konsep bilangan di dalam memorinya. Selanjutnya, konsep bilangan yang telah dimiliki anak berangsur-angsur dapat meningkat.
Pembelajaran pengenalan konsep bilangan di TK kencanasari 01 masih banyak ditemui peserta didik yang memiliki kemampuan membilang rendah. Hal ini terlihat dari hasil pekerjaan anak pada tugas membilang. Dari jumlah 21 peserta didik yang terdiri dari 10 kaki-laki dan 11 perempuan 11 hanya  orang yang bisa mengerjakan. Hal ini disebabkan kurang tersedianya bahan-bahan atau alat yang dapat mendorong anak untuk melakukan kegiatan pengenalan konsep bilangan, di samping itu kurang terbukanya kesempatan untuk bermain dan bereksplorasi dengan bebas serta kurangnya peran guru, terutama penggunaan metode yang kurang tepat dalam mendorong ketertarikan anak terhadap pembelajaran konsep bilangan.
Melihat kondisi seperti ini penulis mencoba untuk meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan pada anak melalui media kartu angka. Kepada anak akan diperlihatkan alat berupa kartu angka yang bertuliskan lambang bilangan maupun kombinasi benda-benda atau gambar dan lambang bilangan. Media ini dirasa perlu diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan dalam pembelajaran di TK Kencanasari 01 tahun pelajaran 2011/2012.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian : Apakah melalui media kartu angka dapat meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan pada kelompok B2 TK Kencana Sari 01 Telukan tahun pelajaran 2011/2012?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan melalui media kartu angka pada  kelompok B2 TK Kencanasari 01 Telukan  tahun pelajaran 2011/2012.

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian tindakan kelas bagi anak dapat meningkatkan kemampuan anak dalam pengenalan angka melalui media kartu angka dengan menggunakan metode demonstrasi. Bagi Pendidik dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam memecahkan masalah konsep bilangan. Bagi Masyarakat, dapat menambah wawasan masyarakat bagaimana cara memfasilitasi dan mendukung dalam mengenalkan konsep bilangan kepada anak-anak dengan menyediakan media kartu angka. Bagi Satuan Pendidik mempunyai cara atau metode baru dalam melaksanakan pembelajaran pengenalan konsep bilangan di TK.

KAJIAN TEORI
Taman Kanak-kanak
Konsep Bilangan
Salah satu unsur yang ada di dalam matematika adalah kemampuan membilang. Bilangan atau biasa disebut dengan angka tidak terlepas dari matematika. Bilangan merupakan bagian dari hidup kita, setiap hari kita selalu  menemukan angka atau bilangan kapanpun dimanapun. Menurut Ruslani (Tajudin, 2008:23) adalah suatu alat pembantu yang mengandung suatu pengertian. Bilangan-bilangan ini mewakili suatu Jumlah yang diwujudkan dalam lambang bilangan.
Sedangkan menurut Copley (2001:47) angka atau bilangan adalah lambang atau simbol yang merupakan suatu objek yang terdiri dari angka- angka. Sebagai contoh bilangan 10, dapat ditulis dengan dua buah angka (double digits) yaitu angka 1 dan angka 10).
Bilangan banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, bilangan yang ditemui anak-anak sebenarnya memiliki arti yang berbeda-beda. Seperti yang dikemukakan oleh Fatimah (Anggraeni, 2011:14) anak-anak akan belajar membedakan arti bilangan berdasarkan penggunaan yaitu: (1)
bilangan kardinal menunjukkan kuatitas atau besaran benda dalam sebuah kelompok. Kuantitas terbagi menjadi 2 yaitu: (1) kuantitas diskret untuk menjawab pertanyaan berapa banyak benda, diakhiri dengan satuan benda (buah, butir, ekor, dll); (2) kuantitas kontinu untuk menjawab pertanyaan tentang pengukuran benda diakhiri dengan satuan benda (buah, butir, ekor,dll); (3) bilangan ordinal, digunakan untuk menandai urutan dari sebuah benda, contoh juara kesatu, dering telepon, ke lima kalinya, hari kartini hari ke 21 di bulan April, dll; (4) bilangan nominal, digunakan untuk member nama benda, contoh: nomor rumah, kode pos, nomor lantai/ruang di dedung, jam, uang, dll.
Bilangan memiliki beberapa bentuk/ tampilan (representasi) yang saling berkaitan diantaranya benda nyata, model mainan, ucapan, simbol (angka atau kata). Mengerti atau paham dalam pembelajaran matematika anak usia dini datang dari membangun atau menegnali hubungan, senada dengan apa yang telah dikemukakan oleh Catthcart (Nurlaela, 2009:16) mengemukakan bahwa tampilan bilangan yang satu dengan tampilan bilangan yang lainnya. memahami hubungan antar tampilan bilangan dapat diartikan sebagai contohnya setalah anak mendengarkan soal (tampilan bahasa lisan), anak bisa menunjukkan dengan media balok (tampilan model/benda mainan), menggambarkannya (tampilan gambar), lalu anak menulis jawaban pada kertas (simbol tertulis angka atau kata).
Setiap bilangan yang dilambangkan dalam bentu angka, sebenarnya merupakan konsep abstrak. Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa dalam pembelajaran matematika menegnal konsep bilangan tidak hanya tampilan bahasa lisan saja tetapi harus diiringi dengan tampilan model/benda mainan ataupun tampilan gambar. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Marhijanto (Tajudin, 2008:30) bahwa bilangan adalah banyaknya benda, Jumlah, satuan system matematika yang dapat diunitkan dan bersifat abstrak. Konsep abstrak iini merupakan hal yang sulit untuk anak Taman Kanak-kanak memahami secara langsung.
Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa konsep bilangan itu bersifat abstrak, maka cenderung sukar untuk dipahami oleh anak Taman  Kanak-kanak dimana pemikiran anak Taman Kanak-kanak berdasarkan pada pengalaman kongkret. Untuk dapat mengembangkan konsep bilangan pada anak anak Taman Kanak-kanak tidak dilakuakn dalam jangka waktu pendek, yang harus dilakukan secra bertahap dalam jangka waktu yang lama, serta dibutuhkan media yang kongkrit untuk membantu proses pembalajaran mengenal bilangan.
Pakasi mengungkapkan (dalam Nurlaela 2009:27) bilangan merupakan suatu konsep tentang bilangan yang terdapat unsure-unsur penting seperti nama, urutan, bilangan dan Jumlah.
Menurut Coopley (2000: 55-64) mengungkapkan indikator yang berkaitan dengan kemampuan mengenal konsep bilangan yaitu (1) counting (berhitung), (2) one-to-one correspondence (koresponden satu-satu), (3) quality (kuantitas), (4) comparison (perbandingan) dan (5) recognizing and writing numeral (mengenal dan menulis angka).
Anak memiliki kemampuan counting (berhitung) sebelum berusia 3 tahun bahwa anak mampu menyebutkan urutan bilangan, misalnya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Untuk bisa berhitung anak-anak memulai berhitung dari 1 sampai 9 setelah itu 10 dan seterusnya yaitu bilangan yang terdiri dari 2 angka, misalnya anak mampu menyebutkan bilangan “sebelas” bukan menyebutkan “sepuluh satu” dan sebagainya.
Anak memiliki kemampuan one-to-one correspondence (koresponden satu-satu) bahwa anak mampu menghubungkan satu benda dengan benda lain, misalnya anak dapat mencari pasangan gambar yang tepat seperti gambar ikan dengan gambar kail, gambar sikat gigi dengan pasta gigi dan lain sebagainya. Kemampuan quality (kuantitas) bahwa anak mampu menyebutkan jumlah benda dalam satu kelompok dengan menyebutkan bilangan terakhir sebagai perwakilan dari keseluruhan, misalnya anak menghitung banyaknya buku “1,2,3,4,5” jadi anak menyebutkan aada 5 buku. Kemampuan comparison (perbandingan) yaitu anak mampu membandingkan sebuah benda atau kumpulan benda, misalnya lebih besr, lebih kecil, lebih banyak, lebih sedikit, dan sama banyak.
Kemampuan recognizing and writing numeral (mengenal dan menulis angka) yaitu anak mengenal dan mampu menulis angka. Anak mengenal dan mampu menuliskan angka bisa melalui beberapa media dari benda-benda disekitarnya, misalnya angka dari telephone, dari halaman buku, majalah dan keyboard komputer.
Mengetahui kemampuan anak menegnal konsep bilangan tidak hanya melalui visual yaitu mengetahui lambang bilangan dan kemampuan verbal menyebutkan bilangan, maka kegiatan mengenal konsep bilangan harus dilakukan dengan menggunakan benda kongkret ataupun gambar yang mewakili lambang bilangan tersebut.
Dalam penelitian ini, kemampuan mengenal konsep bilangan dibatasi hanya meliputi kemampuan (1) berhitung (counting), (2) hubungan satu ke satu   (one-to one correspondence) dan (3) lambang bilangan yang disesuaikan dengan kegiatan penelitian.
Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bentuk jamak kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Gagne (2006:14) mengemukakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Istilah media dalam bidang pembelajaran disebut juga media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, alat bantu atau media tidak hanya dapat memperlancar proses komunikasi akan tetapi dapat merangsang siswa untuk merespon dengan baik segala pesan yang disampaikan.
Penggunaan media pembelajaran selain dapat memberi rangsangan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar, media pembelajaran juga memiliki peranan penting dalam menunjang kualitas proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Yusufhadi Miarso (2004:458):
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali.
Pemilihan media pembelajaran yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa, hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 2) tentang pemanfaatan media pengajaran dalam proses belajar siswa, sebagai berikut: (1) pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar: (2) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik; (3) metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal  melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru harus mengajar untuk setiap jam pelajaran; (4)
siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
 Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang efektif dan efisien.
Media Bermain Kartu
Alat peraga kartu merupakan fasilitas penting dalam di sekolah karena bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak. Dengan alat peraga kartu, anak diajak secara aktif memperhatikan apa yang diajarkan guru. Satu hal yang harus diingat, walaupun fasilitas alat peraga kartu yang dimiliki sekolah sangat minim, tetapi bila penggunaan alat peraga diikuti dengan metode anak aktif, maka efektifitas pengajaran akan semakin baik. Jadi dalam melengkapi alat peraga dan diimbangi pula dengan kreasi-kreasi yang meningkatkan keaktifan anak-anak akan meningkatkan kemampuan anak tersebut.
Alat peraga kartu atau alat bantu mengajar adalah alat-alat atau perlengkapan yang digunakan oleh seorang guru dalam mengajar yang berupa kartu dengan bertuliskan angka sesuai dengan tema yang diajarkan. Alat peraga sering dipakai saat guru bercerita, oleh karena itu usahakan untuk selalu mengadakan dan memperbarui alat-alat peraga kartu. Dengan alat peraga, pelajaran akan disajikan lebih menarik.
Manfaat alat peraga kartu antara lain: Mengarahkan perhatian anak (anak perlu alat bantu untuk berkonsentrasi dalam mendengarkan pengajaran), Membantu pengertian (menjelaskan makna), karena pengertian anak akan sesuatu hal bisa berbeda dengan apa yang guru maksudkan. Sementara tidak semua guru dapat menceritakan dengan baik detail- detail ceritanya.
Jadi Alat peraga kartu adalah alat untuk menjelaskan yang sangat efektif, misalnya: Untuk menjelaskan usia, ciri khas, karekter atau sifat dari seorang tokoh. Dengan alat peraga, gambar lebih jelas daripada dijelaskan dengan kata-kata saja. Sehingga anak dapat menghayati karakter tokoh yang diceritakan.  Untuk menjelaskan situasi sebuah tempat, misal keadaan sebuah kota, bangunan, dan sebagainya, dengan gambar akan lebih jelas daripada diceritakan secara lisan saja.  Untuk menjelaskan alur cerita. Untuk menjelaskan letak sebuah tempat, setting waktunya, budaya, dan situasi kondisi sebuah tempat pada waktu tertentu dalam situasi tertentu. Untuk menggambarkan hubungan keluarga (bila menceritakan silsilah). Untuk menjembatani budaya yang berbeda dengan keadaan hidup anak-anak pada masa kini dengan setting cerita yang diceritakan oleh guru.
Alat peraga kartu adalah alat bantu bagi anak untuk mengingat pelajaran. Alat peraga kartu huruf dapat menimbulkan kesan di hati sehingga anak-anak tidak mudah melupakannya. Sejalan dengan ingatan anak akan alat peraga itu, ia juga diingatkan dengan pelajaran yang disampaikan guru. Semakin kecil anak, ia semakin perlu visualisasi/konkret (perlu lebih banyak alat peraga) yang dapat disentuh, dilihat, dirasakan, dan didengarnya.
Hasil Belajar
Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa yang telah mengikuti proses belajar mengajar. Hasil pada dasarnya merupakan sesuatu yang diperoleh dari suatu aktivitas, sedangkan belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan perubahan pada individu, yakni perubahan tingkah laku, baik aspek  pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Hasil belajar merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Dalam hal ini hasil  belajar yang dicapai siswa dalam bidang  studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Menurut Benyamin S. Bloom (Sumarni, 2007:30) menyebutkan ada tiga ranah belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar merupakan keluaran dari suatu pemprosesan masukan. Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatannya atau kinerja. Perbuatan merupakan petunjuk bahwa proses belajar telah terjadi dan hasil belajar dapat dikelompokkan kedalam dua macam saja yaitu pengetahuan dan keterampilan. Masih menurut Sumarni (2007:30), pengetahuan terdiri dari 4 kategori, yaitu (1) pengetahuan tentang fakta, (2) pengetahuan tentang prosedur, (3) pengetahuan tentang konsep, dan (4) pengetahuan tentang prinsip. Keterampilan juga terdiri atas empat kategori, yaitu (1) keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif, (2) keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik, (3) keterampilan bereaksi atau bersikap, dan (4) keterampilan berinteraksi.
Adapun Soedijarto (Masnaini, 2003:6) menyatakan bahwa Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar dalam kerangka studi ini meliputi kawasan kognitif, afektif, dan pemahaman/kecepatan belajar seorang pelajar. Sedangkan Keller (Abdurrahman, 1999:39), mengemukakan hasil belajar adalah prestasi aktual yang ditampilkan oleh anak, hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha (perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas belajar) yang dilakukan oleh anak.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dalam diri siswa itu sendiri dan faktor dari luar siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama pemahaman pemahaman yang dimilikinya. Faktor pemahaman siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor pemahaman yang dimiliki siswa,  juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan lain-lain.
Hasil belajar siswa dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi yang biasanya disebut tes hasil belajar sedangkan hasil belajar matematika yang dikemukakan oleh Hudoyo (1990:139) adalah tingkat keberhasilan atau penguasaan seorang siswa terhadap bidang studi matematika setelah menempuh proses belajar mengajar yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.
Penerapan Penggunaan Media Kartu Angka pada Pengenalan Konsep Bilangan
Langkah-langkah pembelajaran pengenalan konsep bilangan melalui media kartu angka adalah sebagai berikut:
Tabel 1
Langkah-langkah Pembelajaran

RKH ke    Pembukaan    Inti    Penutup
1    Menceritakan pengalaman ketika melihat bintang

Merayap dan merangkak mengambil gambar bintang    Mengerjakan maze memasang bintang di angkasa

Memasukkan gambar bintang ke lingkaran dengan angka yang sesuai

Menganyam dari guntingan kertas gambar bintang    Mengucapkan syair bintang

Mengulas kegiatan sehari
2    Berdoa syukur karena melihat pelangi

Mengekspresikan gerakan pelangi    Menggunting kertas mengikuti garis, lengkung, lurus, dsb

Membilang jumlah gambar pelangi

Menulis nama warna pelangi, seperti: merah, kuning, hijau    Bercerita dengan gambar terjadinya pelangi


Mengingat kegiatan sehari
3    Menyanyi lagu bunyi hujan



Senam fantasi menirukan gerak orang kehujanan    Meniru membuat garis tegak, datar, miring, lengkung sehingga menjadi tulisan hujan

Memasangkan jumlah gambar hujan dengan angka yang sesuai

Melakukan 5 perintah secara berurutan    Mengenal dan menceritakan asal mulanya hujan


Mengulas kegiatan hari ini
4    Mengucap syair angin puyuh

Memutar dan mengayunkan lengan seperti pohon yang kena angin
    Menggambar pohon tertiup angin

Membilang jumlah gambar pohon kena angin dan menebalkan angka yang sesuai

Membaca tulisan seperti angin putin beliung    Menceritakan gerak pantomin diterjang angin puyuh

Merangkum kegiatan sehari
5    Mengucapkan doa ketika ada gempa

Senam fantasi menirukan gerakan pada waktu gempa bumi    Bermain dengan balok bangunan yang kompleks

Mengisi lambang bilangan  gambar gempa bumi sesuai urutannya
Menggabungkan huruf menjadi bentuk kata, misal: gempa bumi    Menyanyikan lagu gejala alam

Mengulas kegiatan hari ini
Kerangka Berpikir
Kondisi awal guru belum menggunakan media kartu angka dalam pembelajaran pengenalan konsep bilangan, maka kemampuan mengenal konsep bilangan anak rendah.
Untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan maka perlu adanya tindakan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan pembelajaran melalui media kartu angka. Siklus I menggunakan media kartu angka tanpa bimbingan guru dan siklus II menggunakan media kartu angka dengan bimbingan guru. Dengan tindakan yang berbeda dari siklus I ke siklus II diharapkan kemampuan mengenal konsep bilangan meningkat.
Kondisi akhir diduga dengan menggunakan media kartu angka dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada kelompok B2 TK Kencanasari 01 Telukan tahun pelajaran 2011/2012.

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Melalui media kartu angka dapat meningkatkan kemampuan pengenalan konsep bilangan pada kelompok B2 TK Kencanasari 01 Telukan  tahun pelajaran 2011/2012.

1 komentar: